Mom Said..

Jangan meminta hal lebih, kalau kita juga ga bisa memberi lebih. – Mama.

Setelah pengumuman kelulusan dan jalur undangan, yang hasilnya-menurut gue- kurang memuaskan, mama ngucapin kalimat ini ke gua. Emang kalimatnya kayak komentar biasa tapi ngga tau kenapa, kata – kata ini rasanya ngena di hati banget. Ini pemikiran yang sederhana dari keluarga yang sederhana. Mama emang bijak banget deh. :”"))

Lini Waktu

Lini waktu

Senjang tak terelakkan

Jarak langit-bumi tidak lagi berlaku.

bahkan, kiasan surga dan neraka terdengar basi.

Mau dengar yang terbaru?

Aku dan kamu.

 

Lini waktu

sepasang mata teduh jelmakan mata pisau.

Dalam satu pandangan, saling menyerang.

Ingin lihat perang dunia III?

Aku dan kamu.

 

Lini waktu.

Melukai kenangan.

Menodai ingatan.

Aku dan kamu.

 

Lini waktu

Tak bersisa.

Waktu lampau.

Ubah segalanya.

Aku dan kamu.

- Seseorang   diantara mereka (aku dan kamu)

Waktu Malam

Lihat!

Temaram terang rembulan, rela menjaga ingatan.

Kejora mampu luapkan bulir bulir harapan.

Hembus angin isyaratkan kau naunganku.

Sudikah langit hitam ungkapkan rahasianya?

Tiap aksaramu agaknya menelusup benakku.

Senja terperangkap, reuni pun dimulai.

Jingga di ufuk timur pertanda hati nelangsa.

Ini,

Salahku tak hiraukan segaris batas?

Atau,

Salahmu tak kabarkan batas itu?

-Puanmu yang berdurja-

Bait Sempurna

Antrian kenangan terlalu panjang.

Siapa sanggup menguraikannya?

 

Tiap tawa terpatri dalam renungan.

Siapa berani melucutinya?

 

Hujan sarukan tetes air dari pelupuk mata ku, mu, kita.

Siapa mau menghapusnya?

 

Kala tenggang waktu lahirkan hampa.

Semburat semangat lamat – lamat tamat.

Kecewa suluh – padam, kelakar janji agaknya dilupakan.

Dari perahu karam, sinyal SOS digencarkan.

Tak ada, seorang bernyali mengusik.

 

Lalu ku, kau, kita, terburu melafalkan sajak ini, lagi dan lagi.

yang sepatutnya

ku sempurnakan di akhir bait

Aku, kau, kita paham.

Segala goyah.

Namun kasih ini tak berbatas cakrawala. Tak berpaut kayu repas.

Pun kisah sepuh turut menopang.

Setidaknya, hasratku kukuhkan akhir bait ini.

-Untuk Kalian, Kita yang aku rindukan-

Sepantasnya

Kemelut perasaan ini, pantasnya ku ingkari.

Degupan yang tak menentu ini, pantasnya ku redakan.

Lumpuh logika ini, pantasnya ku hiraukan.

Sampai ku baca sirat pertanyaan dari wajahmu,

“Seberapa besar nyalimu hingga kau berani jatuh di depanku?”

Terdiam, bukan karena ku bisu. Terdiam, sebab tak ada sajak yang pantas tuk ku jadikan alibi. Pula tak ada  topeng elok yang dapat menutupi wajah ku- yang mungkin sudah mirip tomat matang.

Hingga,

Mungkin pertanyaan pantasnya dibalas dengan pertanyaan

“Apa hak mu membuat aku jatuh? Seberapa besar dayamu hingga membuat jurang sedalam ini-dan aku sedang berada di ujungnya-?”

Lalu kau membalasnya,

“Ya. Aku tidak punya hak sama sekali, namun dayaku besar tuk buat mu jatuh, bahkan lebih dalam lagi. Dan aku berhak tuk memilih kepada siapa tangan ini akan diulurkan. Maaf, dayaku tak cukup ingin membuatmu kembali sejajar denganku.”

Apakah ini yang sepantasnya menjadi jawabanmu?

semoga  keadaan ini tidak ada pada kalian.

Apakah Sekedar Nama?

Sebuah Nama.

-Pertama-

Ku simak baik baik.

Setiap ucap mereka.

Mengawang dalam pikiran.

Pikirku, aku belum pantas.

          Sebuah Nama.

          -Kedua-

          Terlintas dalam benak.

          Ini bukan sekedar cerita.

          Yang diturunkan dari nenek moyang.

          Namun, belum.

          Belum sanggup ku mengartikannya.

       Sebuah Nama

                 -ketiga-

                 Ku analogikan bak sekuntum puspa.

                 Wanginya semerbak.

                 Tertiup angin senja.

                 Hingga membisik inderaku.

                 Harum, seperti bau surgawi.

                Ah. Pikirku, ini khayalan!

Sebuah Nama.

-keempat-

Setelah lama bertualang.

Mengarungi semua kata.

Menjelajahi setiap bait aksara.

Bibirku mengulas senyum.

Ya, kami sudah satu pandang.

Di bawah gugur daun.

Dia menatapku tajam.

          Sebuah Nama.

          -terakhir-

          Benar.

          Ternyata bukan sekedar Nama.

          Bukan hanya kumpulan aksara semata.

          Terlalu hangat untuk dikatakan Nama.

          Terlalu perih untuk dinamai Nama.

          Namun, ini sangat cukup bagiku.

          Cukup untuk menggantungkan,

          Semua harapanku.

-Dibuat saat otak ini diracuni oleh sebuah “nama”-



‘nama’ bisa apa saja.
(Semoga kalian tidak menganggap ‘nama’ ini sebagai objek yang hidup)
 :) 

Tidak Mengharapkan Sebuah Titik,

Lebih dari sekali. Berkali – kali. Sangking banyaknya, sampe lupa ini udah yang ke berapa kalinya. Nggak tau siapa yang egois. Nggak tau siapa yang kayak anak kecil. Nggak tau siapa yang mulai dan akhirnya-walaupun belum akhir-kayak gini. Yang gue tau hubungan ini (sudah) tidak berjalan di mana seharusnya dia berjalan. Mungkin kami capek dengan diri masing-masing. Mungkin kami sudah terlalu bosan dengan reaksi masing-masing. Tapi yang jelas, kalau memang mau diakhiri, bukan kayak gini caranya. Gue tau, masing-masing dari kami udah tau apa yang terjadi, tapi kami tetap diam. Tidak melakukan-bahkan menambal-apapun. Ya, mungkin kami terlalu lelah, toh selama ini udah berusaha nambal dimana-mana kan? Gue nggak suka dengan ‘masa bisu’ ini. Tapi, gue juga nggak mau mengungkit beberapa hal, yang dengan otomatis muncul tulisan di jidat gue ‘tersangka utama’. Yap, mana ada maling yang mau ngaku? Termasuk gue (walaupun dulunya juga sering ngaku).

Bukan ini yang gue, kita inginkan. Ya kan?


Gue harap bukan sebuah titik, yang ada setelah kata ‘kita’. Semoga tanda koma yang akan ada di akhir bagian ini,agar gue bisa melanjutkan terus bagian yang berikutnya dan waktu-atau rasa mungkin- yang akan memberikan kita titik saat kita siap, (tanda koma). 

Dan jangan berpikir kalau gue tidak mengistimewakan hubungan ini. 

-Orang yg tdk mdh move on-

diketik dengan rasa keegoisan

Jangan coba berpikir kalau ini sebuah hubungan asmara.

Nggak (terlalu) berharap untuk dibaca (oleh satu orang-sedikitnya ‘kita’).

Setidaknya, gue nggak ‘pendiem’,

(tanda koma)

Metamorfosis

Terselubung oleh laju waktu
Terpencil, tak terjamah
Berbalut kemelut lugunya sebuah tawa
Melekat erat, terikat
 
Detak jarum jam bagai musuh tembus pandang
Kasat mata, namun siap menerkam
 
Dentang jam antik tiba terdengar indah
Kini waktunya, kau mendapatkannya
Berlaku pantas tuk meraih, tuk menggenggam
Berdiri tegap, temu aral rintang
 
Layaknya kupu – kupu…..
mengepakkan sayap indah, tinggalkan balut hangat kepompong

(bukan) Miss Indonesia

Wah, sudah lamaaaa sekali rasanya tidak mengurus blog ini *sambil ngitung hari*. Kira – kira ada 3 bulan ya -__-. Alesannya sih agak konyol kedengarannya, hmm gue lupa password sama username blog gue, hehehe. Tapi, lupakan hal itu karena yang terpenting adalah gue udah di sini lagi. Uyeh! :)

Kali ini, mau bahas tentang tidak lain dan tidak bukan yaitu pengalaman gue #krigh. Yaaa, sampai sekarang masih banyak orang bijak yang bilang kalo pengalaman adalah guru yang paling baik, bukan? Kalian tau iklan Miss Indonesia? Yang semboyannya “Semua Mata Tertuju Padamu”. Gue lupa ada kata – kata selalu atau nggak di situ tapi ya kurang lebih itu deh semboyannya. Wajar sih kalau mata dan tatapan semua orang tertuju pada seorang gadis cantik, pandai, nan anggun. Dan karena itu, gue sering sekali menanamkan kalau gue 11 : 12 sama Miss Indonesia. Bukan karena gue merasa cantik, anggun dan punya pesona yang memukau kayak Miss Indonesia.

Gue hanya seorang gadis remaja biasa dengan kehidupan dan pengalaman yang sedikit tidak biasa. Mungkin ketidakbiasaan di sini yang terlihat sangat frontal terletak pada penyangga kaki (knee brace nama kecenya) gue. Hmm, penyangga kakinya warna hitam dan dipakai dari paha sampe di atas mata kaki. Lumayan enteng karena berbahan dasar fiber dan nyaman dipakai kemana – mana. Yang jelas dia selama ini sudah menjalakan tugasnya dengan baik yakni menjaga kaki gue supaya ga terbentur – bentur (maklum gue orangnya seradak seruduk gitu -_-).

                Kira – kira kayak gini penyangga kakinya (knee brace)

Mencolok banget ya? -__- Gue pake itu kemana mana, bener – bener kemana mana! Yaa kecuali di rumah. Gue sekolah, gue pergi jalan, pergi kemana – mana deh. Dan disinilah letak persamaan gue dengan si Miss Indonesia, di mana pun dan oleh siapa pun, mata orang – orang nggak lepas dari gue B-) oke, lebih tepatnya kaki gue. Wajar kok mereka jadi heran trus penasaran sama apa yang gue pake dan kenapa gue pake itu. Memang keliatannya mencolok banget. Ada sebagian yang memandang hal ini sangat aneh dan ajaib. Ada juga yang biasa – biasa aja ngeliatnya, toh memang biasa. Awalnya muncul perasaan marah yang tidak karuan saat beberapa orang benar benar terpana ngeliatin kaki gue. Kadang gue ga suka dengan itu dan rasanya ingin teriak di depan muka mereka dan bilang “Apa yang anda lihat?! Apa urusan anda?!”

Tapi terdengar sangat tidak etis kalau sampai gue ngelakuin itu. Tapi lebih ga etis lagi kalau ada yang nanya dengan kesoktauan mereka men-judge gue dengan bilang “oh itu pasti karena ini yaa” atau “pasti gara – gara ini”. Jujur gue sama sekali nggak nyaman dengan semua pernyataan yg penuh dengan kesoktauan itu. Sebenernya ini semua sangat amat wajar, tapi kadang beberapa orang memposisikan ini menjadi sangat amat aneh dan membuat gue sangat amat tidak nyaman. Mereka ga ngerti itu apa tapi mereka sok tau. Mereka menatap dengan tatapan aneh tanpa mempedulikan gimana perasaan gue atau rasanya diposisi ini *exhale inhale ._.*

Kadang untuk bisa terlihat ‘normal’ di keramaian gue lepas penyangga kakinya. Tapi alhamdulillah gue kembali tersadar kalau ini cuma rasa gengsi dan egois sesaat. Perasaan – perasaan yang diutarakan diatas hanya pada awalnya, selebihnya keikhlasan melapangkan segalanya :) Karena gue gamau gara – gara gue kekeh mau menutupi apa yang tidak biasa itu atau lebih singkatnya kekeh untuk menjadi ’normal’, perjuangan selama kurang lebih 4 tahun ini sia – sia gitu aja cuma gara – gara gengsi dan egois. Bahkan yang orang lihat sebagai keanehan itu,gue anggap sebagai suatu kelebihan besar yang ada di diri gue. Banyak kisah yang terkandung di dalamnya :’) Makanya gue tanamkan semboyan Miss Indonesia di dalam diri gue biar gue sanggup membusungkan dada ke semua orang tanpa memberi pandangan sarkastis ke mereka :D

Akhir kata, jangan menjadi pengecut atau minder karena keterbatasan yang lo punya. Toh mereka gatau kan apa yang ada dibalik keterbatasan lo itu. Karena di dalam sebuah kotak masih ada kotak, di balik kisah masih ada banyak kisah. Sampingkan emosi dan lihat maknanya. Busungkan dada dan terima semua apa yang Tuhan beri. Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan :)

nb: jadi, siapakah yang pantas menjadi Miss Indonesia? *eh* ahaha :p

Apakah Ini Bisa Dianggap Sebagai Pengecut?

Basa – basi sedikit.

Hari ini gue akan sedikit mengulas tentang pengecut. Yap, pengecut. Menurut lo orang yang pengecut kayak gimana?

Kalo definisi pengecut yang gue dapet dari internet, pengecut itu adalah seseorang yang tidak berani mengahadapi kebenaran dan kenyataan nya sendiri sebagai satu individu.

Mungkin ada perbedaan pandangan tentang definisi ini, tapi semua sama kok intinya, orang yang nggak berani menghadapi suatu kebenaran hidup.

Apa menurut kalian ini termasuk perbuatan pengecut? Yak, coba silakan dibaca beberapa paragraf dibawah ini

Kurang lebih 4 tahun lebih terbebas dari penyakit yang kata orang banyak mematikan itu, yaps kanker. Sekedar sekilas info, kanker yang gue derita yaitu kanker tulang.

Oke lanjut..

Alhamdulillah sampai saat ini gue masih sehat walafiat dan yang penting masih bisa berdiri diatas kaki gue sendiri :D Tapi bukan berarti bayang – bayang dan kenangan bertemu si kanker beberapa tahun lalu itu terlupakan. Sampe saat ini gue masih takut, sangat takut mungkin. Takut kalau dia akan kembali dan merenggut semuanya lagi.

Beberapa waktu setelah si kanker itu pergi, gue coba memperbaiki dan membangun diri gue dari awal. Dari mulai menumbuhkan rasa percaya diri yang sempat pudar, mengubur semua rasa minder dalam – dalam, dan menggantikannya dengan semangat dan prinsip yang baru. Karena kanker sudah membuat  gue sedikit ‘berubah’ dari sebelumnya. Terornya tak henti – henti dia berikan ke gue. Bahkan sampai saat ini.

Cita – cita gue adalah menjadi seorang dokter kanker anak, tapi jujur gue sangat takut dengan dokter. Mungkin lebih tepatnya bukan takut sama dokternya, tapi apa yang akan dia katakan ke gue, apa yang akan dia komentari tentang gue dan tubuh gue.

Yaps, gue takut dokter bakalan ngomong beberapa kata yang bakalan meremukkan hati gue (lagi), seperti yang mereka lakukan beberapa tahun lalu itu. Bahkan, gue lebih takut mendengar kenyataan tentang ini daripada menjalaninya.

Karena, dengan mendengar kenyataannya, perasaan yang namanya galau, kalut, gamang, bimbang, bingung, bakalan jadi satu. Gue ngga tau harus gimana, semangat yang sudah mulai dibakar sejak beberapa tahun lalu itu mungkin akan redup, pemikiran optimisme yang sudah didoktrinkan bakalan ilang gitu aja dengan beberapa kata. Hanya beberapa kata kawan!!

Misalnya, “yak, kamu kena ……..”  atau “kamu harus di…….”. ya kalimat – kalimat semacam itu yang bisa langsung mengkeruhkan pemikiran jernih seseorang (dalam hal ini gue).

Dan soal gimana ngejalaninnya, gue mungkin lebih bisa ngontrol diri, yaa setidaknya pada saat perjalanannya gue ngga sempet nge-galau atau ngerasain perasaan – perasaan sedih itu, bakalan ketutup sama ribetnya efek dan rasa sakit yang gue dapet.

Berarti ini menyatakan kalau, kebenaran dapat menghancurkan segalanya. Dan sekali lagi, gue lebih takut, bahkan sangat takut mendengar kenyataan ini daripada ngejalanin ini semua.

Gue yakin, Allah akan memberikan semua yang terbaik untuk hamba-Nya, memberikan yang menjadi kebutuhan bagi hamba-Nya. Dan Dia ngga akan memberikan cobaan yang ngga bisa dilewati sama hamba-Nya, hanya Dia yang tau kemampuan seseorang.

Hmm, setelah lo baca ini, apakah ini yang disebut pengecut kawan – kawan? Apakah ini masih ketakutan biasa? Atau gue termasuk definisi sebagai seorang yang pengecut? menjadi seseorang yang takut mendengar kebenaran tentang dirinya. ya sampai saat ini gue berusaha mengontrol ketakutan itu. tapi apa daya ketakutan itu masih lebih besar dari daya gue.

yaps, silakan kalian nilai menurut pandangan masing – masing :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 342 pengikut lainnya.